Tips untuk menerjemahkan bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia, pertama, tentukan subjeknya. Mengapa? Kalimat dalam bahasa Jepang seringkali tidak menyebutkan subjek atau pelaku perbuatan yang dijelaskan dalam kalimat itu apabila sudah jelas atau bisa disimpulkan dari konteksnya. Apabila tidak ada keterangan pada kalimat lain, subjeknya adalah kata ganti orang pertama, yaitu “aku” atau “kita”.
Contoh kalimat:
いろいろと考えてみると、今の流れは「見栄えが一番」であるように思われる。
Iro iro to kan’gaete miru to, ima no nagare wa “mibae ga ichiban” de aru you ni omowareru.
Kalimat di atas terdiri dari dua anak kalimat, yaitu: いろいろと考えてみると dan 今の流れは「見栄えが一番」であるように思われる。
Perhatikan bahwa subjek kalimatnya tidak ada. Karena tidak ada, berarti subjeknya adalah “aku” atau penulis kalimat itu.
Anak kalimat pertama いろいろと考えてみると, jika dipecah unsur penyusunnya:
いろいろ iro iro = macam-macam
考えてみると kan’gaete miru to = jika mencoba berpikir
“jika mencoba berpikir macam-macam”
Sedangkan anak kalimat kedua 今の流れは「見栄えが一番」であるように思われる
今 ima = sekarang
流れ nagare = tren, kecenderungan
見栄え mibae = penampilan luar yang bagus
一番 ichiban = nomor 1
思われる omowareru, dari omou 思う = berpikir (secara objektif)
“berpikir tren sekarang ‘penampilan nomor satu’ “
Sekarang kita sudah paham maksud kalimat ini. Tiba saatnya menggunakan segenap kreativitas sebagai penerjemah nan mumpuni untuk menyusun kembali maksud kalimat tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
1. Ketika aku mempertimbangkan berbagai hal dari berbagai sudut pandang, agaknya saat ini cenderung berlaku “tampang itu nomor satu.”
2. Apabila saya merenungkan dalam-dalam, kecenderungan yang berlaku adalah “tampak luar itu segalanya.”
3. Setelah kupikirkan dari berbagai sisi, aku merasa masyarakat kita cenderung mengutamakan penampilan di atas segalanya.
dan lain-lain, silakan pikirkan sendiri.
Karena struktur kalimat bahasa Jepang yang jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, penerjemah biasanya tidak bisa menerjemahkan langsung kata per kata. Pasti tidak nyambung. Oleh karena itu dibutuhkan pengertian yang tidak setengah-setengah terhadap kalimat sumber, juga kemampuan menyusun kalimat yang terbaca dalam bahasa Indonesia. Menantang, bukan?
Semoga berguna untuk calon penerjemah bahasa Jepang.
Silakan tinggalkan komentar di sini.


